View Project

Setelah sukses diadakan di tahun 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015 maka di tahun 2016 Jazz Gunung akan kembali digelar. Jazz Gunung 2016 akan dilaksanakan pada tanggal 19-20 Agustus 2016 di Java Banana Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.

Client: Jazzgunung

Setelah sukses diadakan di tahun 2009, 2010, 2011, 2012, 2013, 2014, 2015 maka di tahun 2016 Jazz Gunung akan kembali digelar. Jazz Gunung 2016 akan dilaksanakan pada tanggal  19-20 Agustus 2016 di Java Banana Bromo, Probolinggo, Jawa Timur.

Sebagai perbandingan, dua festival jazz di Indonesia seperti Jak Jazz dan Java Jazz selalu diadakan di Jakarta dengan lanskap kultur masyarakat urban. Sedangkan Jazz Gunung diadakan di salah satu daerah yang jauh dari kota besar, yaitu di daerah pegunungan.

Jazz Gunung merupakan pertunjukan musik bertaraf internasional yang menampilkan harmonisasi antara musik jazz dan etnik. Jazz Gunung diadakan setiap tahun dengan konsep paling unik dalam pertunjukan musik jazz yang pernah ada di Indonesia bahkan di dunia karena diadakan di daerah pegunungan pada ketinggian 2.000 meter di atas permukaan laut, panggung terbuka, beratapkan langit, dan berlatar pemandangan alam Gunung Bromo.

Perhelatan Jazz Gunung ini akan diramaikan oleh sederet nama-nama besar musis jazz, antara lain di tgl 19 Agustus 2016 bersama Ian Scionti Trio (Spain), SambaSunda, Ring of Fire Project Feat. Bonita & Ricad Hutapea, Ermy Kullit, Shaggydog dan di tgl 20 Agustus 2016 bersama Nial Djuliarso Trio Feat Arief Setiadi, Peni Candrarini, Ring of Fire Project Feat. Bonita & Ricad Hutapea, Dwiki Dharmawan Jazz Connection, The Groove.

Jazz Gunung diharapkan dapat dijadikan sebagai gerbang hati bagi kebebasan jiwa, di alam yang dengan kearifannya yang telah menjadi simbol budaya asli di nusantara. Kehadiran Jazz Gunung diharapkan dapat menjadi kekuatan yang mampu mendorong dialog kemanusiaan yang memperkaya peradaban Indonesia dan perdamaian yang melalui musik sebagai pemersatu.




Alam Bromo dan Pegunungan Tengger dengan segenap warga dan tradisi di sekitarnya menjadi spirit utama yang menaungi pemusik dan pengunjung. Angin, udara sejuk, hawa segar, aroma rumput, embun, awan, langit biru, satwa, dan tentu saja Gunung Bromo, menjadi bagian tak terpisahkan dari presentasi seniman. Mereka menjadi bagian dari musik itu sendiri dan alam menjadi orkestra indah. Ini merupakan totalitas jazz dan alam.

Pengunjung tidak saja mendapat pengalaman auditif dari musik, akan tetapi lebih jauh mereka mengenal secara lebih intens alam Bromo. Memori auditif dan pengalaman visual itu diharapkan menjadi penyadaran untuk mencintai alam, memelihara dan menjaga Bromo. Pada gilirannya langkah-langkah itu akan mengundang lebih banyak orang untuk datang ke Bromo dan kawasan Taman Nasional Bromo-Tengger-Semeru.