| Refleksi Sekolah Kok Mahal !!!! |
| Written by biz-a dk | |||
|
Refleksi pendidikan mungkin bisa dianalogikan dengan dinamika di atas , Hal itu juga pernah saya alami ketika ada tetangga saya yang bercerita tentang anaknya yang ngotot didaftarkan oleh orang tuanya ke salah satu sekolah SMA Negeri Favorit RSBI (katanya orang sich) di kota malang, Padahal Sejak awal mereka sudah tahu kalau sekolah disana, harga yang harus mereka bayar, pasti di atas Sekolah Swasta. Pun dengan orang tua murid lain, juga pasti paham itu. Toh sejak pendaftaran, sudah disebutkan berapa uang yang harus kami bayar. Sama seperti wali murid yang lain bahwa yang mendaftarkan anaknya di sekolah itu juga mengeluh tentang mahalnya biaya pendidikan. Tapi keluhan yang muncul itu, terbesit nada bangga.
Kemudian beberapa hari kemarin, tetangga saya juga menemukan hal yang aneh. Ada seorang ibu-ibu yang ngotot meminta keringanan uang sekolah dengan menunjukkan surat keterangan tidak mampu dari desa. Sang ibu itu bersikeras meyakinkan ke loket pendaftaran, kalau dia dari orang tidak mampu.
Lantas ada cerita lain, ketika seorang teman meskipun mampu membayar, tapi saat daftar ulang untuk sekolah anaknya, meminta waktu membayar dengan diangsur tiga bulan. Tapi keesokkan harinya, dia kembali datang ke sekolah itu dan membayar lunas uang sekolah anaknya. Saat ditanya bagian daftar ulang, dia menjawab santai.
Mungkin karena fakta-fakta itulah, justru menyebabkan orang yang benar-benar tidak mampu, menjadi kesulitan untuk mendapatkan keringanan. Karena kita sudah terlanjur sering menipu kenyataan. Padahal ada banyak orang yang benar-benar tidak mampu dan butuh uluran tangan. Ada banyak putra dan putri orang papa, yang punya otak moncer, tapi tak didukung materi cukup, berharap keringanan untuk membayar uang sekolah. Namun lantaran digebyah uyah, akhirnya bisa jadi permohonan keringanan itu, dianggap sekadar ingin membayar murah uang sekolah anaknya. Jika sudah begini, siapa yang salah? Alangkah baiknya, kalau para orang tua harus mulai jujur pada dirinya sendiri. Karena siapa tahu, ketika kita memulai sesuatu dengan tidak jujur, justru hasilnya tidak bagus.
sabhatansa.biz
|

Sebenarnya saya tidak tepat kalau menyebut Excelso sebagai ‘warung kopi’. Betapa tidak, meski menjual kopi dan penganan kecil, tapi satu cangkir kopi di tempat nongkrong mewah itu, bisa dipakai nraktir lima orang di warung kopi pinggir jalan. Tapi sebagian orang lebih suka mengatakan pergi ke warung kopi, untuk menyebut nongkrong di Excelso. Entah itu yang ada di MOG maupun Araya.









